GOLPUT SEBAGAI KESINISAN POLITIK

Posted by Ena Rusyana Rabu, 02 April 2014 0 komentar
Dengan sadar tidak memilih dalam pemilu karena sikap politik, paham atau pandangan yang negatif terhadap sistem demokrasi, itulah sikap Golput. Mereka yang golput biasanya mempunyai alasan-alasan tertentu, di antaranya:
1.      Tidak percaya pada sistem politik yang berlaku dan menganggap pemilu tak akan bisa mengubah nasib bangsa menjadi lebih baik.
2.      Tidak percaya pada orang-orang yang berkompetisi pada pemilu.
3.      Kecewa dengan orang-orang politik yang telah dipilih melalui pemilu tidak bisa amanah, cenderung korup dan mementingkan kelompok atau golongannya sendiri.
4.      Tidak percaya dengan partai politik yang berkompetisi dalam pemilu.
5.      Mempunyai paham politik keagamaan yang radikal dan menganggap pemilu serta demokrasi yang berlaku sebagai paham dan praktek-prakter orang kafir.
Pada tulisan ini saya tidak akan memperdebatkan alasan-alasan orang menjadi golput. Hanya ingin menambah sedikit pemikiran. Ketika orang-orang kecewa dengan demokrasi sekarang ini dan ada kecenderungan menggeneralisasi semuanya, maka sikap golput bukanlah cara terbaik.
1.      Banyak anggota dewan yang korup, tapi banyak juga yang amanah.
2.      Banyak anggota dewan yang moralnya membuat miris, tapi tak sedikit juga anggota dewan yang bermoral baik.
3.      Ada banyak kasus yang menimpa partai politik, tapi tak berarti semua partai politik itu jelek.
Ketika pemilu dianggap tidak akan mengubah nasib bangsa menjadi lebih baik, maka golput malah tidak mengubah apa-apa. Golput tidak mempengaruhi hasil pemilu secara keseluruhan. Anggaplah kalau ada pikiran bahwa caleg-caleg itu bukan orang baik, maka golput berarti membiarkan mereka menguasai politik negeri ini. Tapi mustahil tak ada caleg yang baik atau amanah barang seorang dua orang.
Kalau yakin ada caleg yang baik, amanah, tidak bakal korup, meskipun perannya nanti setelah terpilih hanya sebesar biji sawi, maka kita wajib mendukungnya. Dari sudut ini, berdosa bagi golput yang tidak menentukan pilihan caleg yang baik, tidak menilai para caleg yang baik, tidak memilah caleg yang baik.
Mustahil dalam sistem demokrasi ini tidak ada kebaikannya. Mustahil sistem pemilu ini akan seratus persen menghasilkan anggota dewan yang jelek. Pasti ada yang baiknya. Kecenderungan orang golput ialah menutup pemikirannya untuk menilai secara obyektif. Ini sebuah kesinisan politik yang ambigu. Bahkan menganggap hebat dirinya sendiri, menganggap lebih baik dirinya sendiri dari orang lain.
Ketika seseorang golput, maka ia sebenarnya kehilangan hak untuk mengkritisi hasil-hasil pemilu. Ia juga mesti golput ketika hasil-hasil pemilu telah ditetapkan.

Baca Selengkapnya ....

Mentalitas Legowo Siap Dikritik

Posted by Ena Rusyana Sabtu, 08 Maret 2014 0 komentar
Mengkritik orang lain itu gampang. Betul-betul gampang. Anak kecil saja bisa. Yang susah adalah mempunyai mentalitas legowo saat kita dikritik orang lain. Pada umumnya orang apabila dikritik dihadapi dengan hati dan kepala yang panas. Sebenarnya, kritik itu alat bantu seperti cermin untuk melihat diri kita sendiri. Bayangkan anda bercermin niscaya sebagian bentuk badan anda akan kelihatan. Nah, itulah juga yang dilihat orang lain dari diri kita.

Mempunyai mentalitas yang legowo, menerima kritik sebagai motivasi untuk mengoreksi diri kita agar menjadi lebih baik, bukan pekerjaan sehari dua hari. Tapi proses yang panjang. Tapi dasarnya ada pada pemahaman bahwa kita tidak selalu awas dengan diri sendiri, lebih awas dengan orang lain. Selain itu, kita harus memahami bahwa setiap hal mempunyai perspektif yang bisa jadi beragam yang memicu berbagai pendapat yang mungkin saja bertentangan tapi niscaya saling melengkapi.


Baca Selengkapnya ....
Buat Email | Copyright of CONTOH PROPOSAL LENGKAP +.